bersama mereka kuukir perjalanan

Jumat, 23 Maret 2012

Resensi buku fiksi Trilogi Insiden


Judul                : Trilogi Insiden
Penulis             : Seno Gumira Adjidarma
Peresensi         : Indri Prasetya Wati
Penerbit           : Bentang Pustaka
Tahun              : I, April, 2010
Halaman          : 452 Halaman




Sebuah Perlawanan Terhadap Pembungkaman

Dan apabila mulut  dibungkam, biarkanlah tangan ini yang meneriakkan kata-kata. Biarkanlah bahasa yang membongkar apa-apa yang tersembunyi dibalik jejak sejarah yang belum terungkap.
“Kebenaran” yang dijunjung tinggi-tinggi kala itu, hanya sebuah celoteh kecil tanpa makna. Dimana penguasa dapat mengotak-atik semua “isinya”.

Sastra tidak sama dengan jurnalistik. Namun, ketika jurnalistik mengalami keterbatasan dalam mengungkapkan realitas, maka sastralah yang dapat menggantikannya. Itulah yang ingin disampaikan lewat buku ini.
Setidaknya ada tiga buku Seno Gumira Ajidarma yang merupakan Trilogi Insiden–ketiganya mengandung fakta seputar Insiden Dili, yang ditabukan media massa semasa Orde Baru. Itulah Saksi Mata(kumpulan cerpen), Jazz, Parfum dan Insiden(Novel) dan ketika Jurnalisme di Bungkam Sastra Harus Bicara(kumpulan Esai) yang diterbitkan ketika orde baru masih berkuasa. ketiganya telah menjadi dokumen, tentang bagaimana sastra tak bisa menghindar untuk terlibat, secara praktis dan konkret, dalam persoalan politik–apabila politik kekuasaan itu menjadi semakin tidak manusiawi.

Di masa reformasi, kewaspadan atas perilaku kekuasaan tidak bisa dilepaskan. Ketiga buku ini diterbitkan kembali dalan satu judul, sebagi Trilogi Insiden, memeniuhi kebutuhan untuk saling mengingatkan.
Buku Saksi Mata merupakan kumpulan cerpen, yang terdiri dari Saksi Mata, Telinga, Manuel, Maria, Salvador, Rosario, Listrik, Pelajaran Sejarah, Misteri Kota Ningi, Klandestin, Darah itu Merah Jenderal, Seruling Kesunyian, Salazar, Junior, Kepala di Pagar Da Silva, dan Sebatang Pohon di Luar Desa. Dari judulnya saja sudah jelas bahwa cerpen-cerpen ini merupakan representasi dari Insiden Dili 12 November 1991. Terasa nyata, terasa darahnya, terasa sadisnya, terasa kejamnya.
Kedua adalah buku Jazz, Parfum dan Insiden. SGA mampu meramu laporan-laporan Insiden Dili menjadi sebuah roman yang dibalut sensasi parfum dan filosofi alunan musik jazz. Kehidupan seperti jazz memang penuh improvisasi. Banyak peristiwa tak terduga yang harus selalu kita atasi. Kita tak pernah tahu ke mana hidup ini akan membawa kita pergi. Kita boleh punya rencana, punya cita-cita, dan berusaha mencapainya, tapi hidup tidak selalu berjalan seperti kemauan kita. Barangkali kita tidak pernah mencapai tujuan kita. Barangkali kita mencapai tujuan kita, tapi dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan. Barangkali juga kita tidak punya tujuan dalam hidup ini, tapi hidup itu akan selalu memberikan kejutan-kejutannya sendiri. Banyak kejutan. Banyak insiden.
Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara merupakan kumpulan essai yang merangkum dibalik pembuatan Saksi Mata maupun Jazz, Parfum dan Insiden. Bila jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran. Fakta-fakta bisa diembargo, dimanipulasi, atau ditutup dengan tinta hitam, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya, seperti kenyataan. Jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, tetapi kendala sastra hanyalah kejujuran sendiri. Buku sastra bisa dibrendel, tetapi kebenaran dan kesusasteraan menyatu bersama udara, tak tergugat dan tak tertahankan. Menutupi fakta adalah tindakan politik, menutupi kebenaran adalah perbuatan paling bodoh yang bisa dilakukan manusia di muka bumi.
Kebenaran dalam kesusasteraan adalah sebuah perlawanan bagi historisme, sejarah yang hanya diciptakan bagi pembenaran kekuasaan. Semoga penerbitan ulang buku ini mampu mengingatkan semua pihak bahwa Tragedi Dili merupakan bagian dari sejarah bangsa ini yang tidak boleh dilupakan.
Selayaknya karya sastra bukanlah sekedar hiburan, Ia lahir dari sebuah pemikiran yang merefleksikan  zamannya dan tidak lepas dari realitas faktual yang terjadi pada masyarakat. Mengutip yang ditulis Seno Gumira Adjidarma dalam sebuah esainya, ‘imajinasi tidak mampu melepaskan fakta dari kebenaran, barangkali ia menjadi fiksi tapi tetap kebenaran.’


1 komentar:

Pages