bersama mereka kuukir perjalanan

Selasa, 15 Mei 2012

PERGESERAN PERAN ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DI ERA GLOBALISASI


PERGESERAN PERAN ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
DI ERA GLOBALISASI
Indri Prasetya Wati     (10406241023)

Globalisasi, kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Pada saat ini globalisasi lakyaknya seperti  virus yang dengan cepat menyebar dan mempengaruhi berbagai elemen kehidupan. Globalisasi juga mampu mengubah tatanan sosial, norma, dan nilai dalam masyarakat yang sudah tersusun sedemikian rupa mengalami pergeseran, pembenturan atau perubahan dengan mendominasi nilai-nilai dari luar. Seiring dengan era globalisasi, isu kesetaraan gender semakin menguat menyangkut peran antara laki-laki dan perempuan dalam semua bidang kehidupan.
Pada mulanya perempuan dianggap tabu jika terlibat dalam kegiatan politik maupun perekonomian, sebab pada dasarnya peran perempuan hanya dalam lingkup rumah tangga. Menurut Vitayala, 1995 melalui Endang Lestari Hastuti prospek dan pengembangan citra peran perempuan dalam abad XXI berbentuk menjadi beberapa peran yaitu Peran tradisi, yang menempatkan perempuan dalam fungsi reproduksi. Hidupnya 100 persen untuk keluarga. Pembagian kerja jelas perempuan di rumah, laki-laki di luar rumah. Peran transisi, mempolakan peran tradisi lebih utama dari yang lain. Pembagian tugas menuruti aspirasi gender, gender tetap eksis mempertahankan keharmonisan dan urusan rumah tangga tetap tanggung jawab perempuan.[1] Pandangan seperti itu sudah berkembang dari dahulu dan baik laki-laki maupun perempuan awalnya menerima saja “label” seperti itu. Sejalan dengan era globalisasi peran-peran yang mengikat dan membatasi perempuan seperti itu pudar dan tergeser, pekerjaan dimasyarakat yang selama ini didominasi oleh kaum adam beralih fungsi menjadi pekerjaan perempuan (tidak semua jenis pekerjaan).
Dewasa ini seiring dengan berkembangnya teknologi dan informasi tanggung jawab perempuan akan pekerjan-pekerjaannya di rumah dapat teratasi. Segala perubahan dan perkembangan dunia membawa dampak positif maupun negatif bagi kehidupan masyarakat, khususnya bidang gender. Gender adalah perbedaan peran, fungsi, persifatan, kedudukan, tanggung jawab dan hak perilaku, baik perempuan, maupun laki-laki yang dibentuk, dibuat, dan disosialisasikan oleh norma, adat kebiasaan, dan kepercayaan masyarakat setempat.
Dalam kaitan ini, konsep gender berhubungan dengan peran dan tugas yang pantas/tidak pantas, baik untuk laki-laki, maupun perempuan.[2]
Pada hakikatnya manusia butuh suatu pengakuan tentang dirinya oleh orang lain dan lingkungan sekitarnya. Perempuan merupakan manusia dan bagian dari masyarakat, sehingga mereka pun memiliki perasaan ingin diakui keberadaannya ditengah-tengah laki-laki. Perempuan juga berhak untuk maju dan berkembang sesuai dengan tuntutan zaman, maka dari itu tidak mengherankan jika pada saat ini banyak birokrasi-birokrasi pemerintahan, perdagangan, dan pembangunan dipegang oleh perempuan.
Pandangan yang menyebutkan bahwa perempuan harus tetap diam di rumah, menjadi sosok yang penurut dan manut, semestinya segera diganti dengan pandangan bahwa perempuan harus sudah mulai berorientasi ke global, luar rumah, dan menjadi perempuan bekerja yang mandiri. Apalagi kalau kita melihat kenyataan bahwa saat ini justru banyak perempuan yang menjadi penopang ekonomi keluarga, pencari nafkah yang utama. Banyak pula perempuan yang menjadi ibu tunggal bagi anaknya sehingga kesadaran masyarakat dan lingkungan kerja mutlak diperlukan untuk mendukung kenyataan ini.[3]
Dalam bidang ekonomi terlihat adanya kecenderungan perempuan juga turut dalam mencari pekerjaan, baik itu karena kebutuhan ekonomi keluarga maupun karena tuntutan zaman dan haknya sebagai wanita. Maka dewasa ini banyak dunia kerja yang diduduki oleh perempuan, bahkan tidak salah jika pendapatan perempuan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Menurut Yenny Wahid peluang perempuan untuk berkiprah dan maju masih terbuka lebar, mengingat banyak perempuan yang sudah mengenyam pendidikan tinggi. Penyertaan perempuan dalam lembaga-lembaga tinggi negara selalu meningkat dari tahun ke tahun. [4]
Tampilnya perempuan yang dominan dalam bidang pendidikan, pemerintahan, perekonomian, bahkan pembangunan merupakan proses tuntutan globalisasi, akan tetapi bukan sepenuhnya dari sisi global namun juga adanya tuntutan akan kemampuan yang lebih baik, tuntutan kebutuhan serta adanya kesempatan di lapangan. Dari adanya fenomena ini menjelaskan bahwasanya antara laki-laki dan perempuan adalah sama, sama-sama memiliki kemampuan, kesempatan, kedudukan, dan mempunyai fungsi serta peran dalam masyarakat.

Permasalah gender dalam lingkup pergeseran peran laki-laki dan perempuan sebenarnya bukan satu-satunya masalah sosial yang bersinggungan langsung dengan dampak globalisasi, sebab untuk dunia modern sekarang siapa saja dapat dengan mudah mengakses segala macam informasi dari luar, mengenai pendidikan, pekerjaan, bahkan politik pemerintahan, baik perempuan maupun laki-laki. Pada dasarnya mereka tidak dibatasi dengan sistem seketat dulu sebelum modernisasi dan globalisasi merebak di negara ini. Kebebasan itulah yang mengaburkan peran mereka.  
Pergeseran peran ini sebaiknya tidak terlalu dianggap sebagai dampak negatif dari  globalisasi. Sebab antara perempuan dan laki-laki sebetulnya masih mempunyai posisi yang berbeda di hal-hal tertentu, yang mana tidak bisa digantikan dengan siapapun. Laki-laki posisinya sebagai suami dalam keluarga, perempuan posisinya sebagai istri yang tugasnya mendampingi suami. Dibutuhkan adanya rasa saling pengertian antara perempuan dan laki-laki agar tercipta hubungan yang selaras untuk menghadapi konflik-konflik yang muncul akibat pergeseran gender tersebut. Saling menghargai, tidak merendahkan satu sama lain, dan saling melengkapi, serta tetap pada kodratnya sebagai laki-laki maupun perempuan merupakan sikap yang perlu ditumbuhkan untuk membentengi diri dari pengaruh negatif globalisasi dalam konsep gender. Disamping peran setiap individu masing-masing, peran masyarakat dalam menumbuhkan kesadaran akan posisi masing-msing individu di lingkungannya juga dibutuhkan, agar antara laki-laki dan perempuan menempatkan dirinya pada posisi semestinya sesuai dengan peran dan kemampuan masing-masing.


Sumber:
Hastuti, Endang Lestari. Thesis: Hambatan Sosial Budaya Dalam Pengarusutamaan Gender Di Indonesia (Socio-Cultural Constraints on Gender Mainstreaming in Indonesia). Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan (KPP). ”Bunga Rampai: Panduan dan Bahan Pembelajaran Pelatihan Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional.” (Kerjasama Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI, BKKBN. dan UNFPA. 2004.
Edi Atmaja, A. P. 2012. Perempuan sebagai Kata Kerja. Harian Analisa. Melalui http://www.analisanews.com/berita/030412/perempuan-sebagai-kata-kerja diunduh pada tanggal 03 april 2012.
http://www.antaranews.com/berita/300609/perempuan-akan-dominasi-profesi-pakar-ti  diunduh pada tanggal 3 april 2012.


[1] Endang Lestari Hastuti, Thesis: Hambatan Sosial Budaya Dalam Pengarusutamaan Gender Di Indonesia (Socio-Cultural Constraints on Gender Mainstreaming in Indonesia), Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor.
[2] Kementerian Pemberdayaan Perempuan (KPP), ”Bunga Rampai: Panduan dan Bahan Pembelajaran Pelatihan Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional,” (Kerjasama Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI, BKKBN, dan UNFPA, 2004. Melalui Herien Puspitawati.
[3] A.P. Edi Atmaja, 2012, Perempuan sebagai Kata Kerja, Harian Analisa. Melalui

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages